MAKNA
KEHADIRAN ORANG TUA
“Engkau adalah
busur-busur tempat anak-anakmu, menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan.
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan
kekuatanya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.”
(Kahlil Gibran)
Kahlil Gibran mengumpamakan orang tua seperti busur, sang
pencipta kita seperti pemanah, dan anak-anak adalah anak panahnya. Peran orang
tua dan dan hubuangan mereka dangan penciptanya, ternyata sangat penting dalam
membidik dan membesarkan anak-anak. Kiasan Gibran menggambarkan seakan ada
rentetan yang tak terputus, sehingga alur ceritanya terhubung kepada sang
khaliq(pencipta).
Tak ada yang memungkiri kebaikan,
kasih sayang, pendidikan, dan manfaat yang telah diberikan oleh orang tua
kepada kita. Saat kita terlahir di dunia, meraka sudah menjamu kita layaknya
seorang raja. Kita diberikan ini dan itu, padahal kita tidak mengerti apapun
yang mereka berikan. Bagi mereka, yang terpenting adalah memenuhi kebutuhan
yang kita butuhkan. Tak peduli tengah mala, jika kita menangis, merak akan
bangun, mengendong, dan menina bobokkan sampai kita tidur lagi.
Pada masa anak-anak, semua yang kita
perlukan disediakan dan terpenuhi oleh orang tua hingga kita beranjak remaja.
Mereka terus berjuang dengan membanting tulang hanya untuk menyambung nyawa dan
membiayai pendidikan kita. Meraka tidak peduli lelah dan sakitnya perjuangan,
serta sulitnya medan yang di hadapi, namun mereka tetap berusaha sekuat tenaga
agar segala yang menjadi keinginan kita bisa tercapai. Subhanallah!
Luar biasa ! Allah Swt. Memberi
kepercayaan dan kelebihan kepada orang tua, sehingga menjadi wakil-Nya di bumi
untuk menjaga, merawat, mendidik, bahkan mengawal kita sampai dewasa. Tentunya,
ketidak hadiran mereka di sisi kita akan menjadi lain. Kita tidak akan
menikmati masa kanak-kanak, remaj, bahkan hingga dewasa pun, sebagaimana yang
dirasakan oleh anak-anak pada umumnya.
Allah Swt, mengatur dan
memerintahkan melalui Al-Qur’an untuk merawat anak-anak yang tidak memilki
ornag tua (yatim piatu). Bagi yang melakukannya, akan mendapatkan balasan
kebahagian yang tak ada bandingnya kelak di akhirat. Rasulullah pun
menggambarkan anak yatim, dan yang merawatnya seperti jari tengah dan jari
telunjuk bersama beliu di surga.
Kita tidak akan tahu makna sejati
kehadiran orang tua di sisi kita,. Sebaik apa pun mereka terhadap kita, seakan
hal yang biasa saja. Bahkan, mereka berkorban segalanya untuk keinginan kita,
belum mampu membuat nilai lebih di hati kota. Terkadang, kita justru lebih
memperlaku? Mudah-mudahan, kita tidak termasuk yang melakukannya. Perintah
untuk berbuat baik kepada orang tua, secar tegas difirmankan oleh Allah Swt.
Dalam Al-Qur’an, sebagaiman firman-Nya berikut “ Dan hendaklah kamu berbuat baik
kepada ibu bapakmu dan kaum kerabat dan anak-anak yatim” (Qs An Nissa 4
:127).
Akankah kita baru sadar bahwa begitu
berharganya kehadiran orang tua yang wajib kita sayangi setelah mereka meniggal
dunia? Bisakah kita juga berbuat sesuatu minimal setengah dari semua yang telah
meraka lakukan terhadap kita pada masa beliau masih hidup?
Lalu, benarkah hanya waktu lebaran,
kita baik dan meminta maaf kepada kedua orang tua? Bisakah kita tidak bermanis
ria dalam berbicara ketika kita butuh uang? Kemudian, kita hanya terharu dan
menangis saat mereka meniggal, namun masa hidup mereka kita berani melawannya?
Apakah demikan cara kita membalas kebahagian yang mereka berikan kepada kita?
Bukaankah kelak apabila kita dewasa, menikah, dan berkeluarga juga akan menjadi
orang tua? Siapkan kita diperlakukan seperti itu oleh orang yang kita sayangi
dan telah mengorbankan segalany?
Renungkan dan bayangkan, seandainya
orang tua meninggalkan kita sejak kita kecil, serta pejamkan mata dan bayangkan
mereka telah melakukan banyak hal kepad \a kita. Karena itu, sudah seyogianya,
sebagai seorang anak, kita hormat dan berbakti kepda kedua orang tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar