Tampil Berani
Berbagai macam tantangan mulai dari
ancaman, cacian, makian, hingga fitnah, disebarluasakan oleh para tokoh dan
pemuka Quraisy untuk menhalang-halangi dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw dan
para Sahabatnya. Namun, keberaniannya, mereka membalas dengan kesantunan,
kebaikan, serta memperlihatkan kesehajaan dan keakraban, walaupun berbeda
keyakinan. Akhirnya, dengan etika dan moral yang baik, umat isalam mampu
menjadi pemenang dan diterima keberadaanya di tengah-tengah masyarakat
jahiliah.
Lihatlah sekarang,para pemuda dan
remaja islam sangat menyedihkan karena mereka sudah tiadak tahu-menahu terhadap
ajaran islam, malu menampilkan identitas keislamannya, dan mengamini saat islam
dihujat dengan stigma, label, bahkan sebagai teroris. Padahal, tidak ada
tantangan berarti yang harus menuntut mereka berkorban jiwa dan raga, maupun
materi. Sungguh, ironis!
Sejatinya, islam sudah membumi di
indonesia. Islam telah merata dan diikuti oleh berbagai suku, bahasa, dan adat
istiadat, sehingga mempermudahinteraksi sesama umat islam. Namun, sayangnya,
para pemuda dan remaja muslim tidak berani tampil untuk memperlihatkan
indentitas mereka sebagi pemuda islam, berani mengingatkan temannya yang
berbuat sesuatu yang keluar dari garis islam, serta berani mengatakan “TIDAK”
pada kemungkaran. Mereka justru terpaku dan mudah dipengaruhi oleh
budaya-budaya yang merusak moral mereka.
Seharusnya, para remaja bangga
memiliki indentitas muslim, menjadi teladan, serta siap berdiskusi untuk
meluruskan dan mencari solusi terhadap penyelewengannilai dan diskreditasi yang
dialamatkan kepad aumat islam. Para remaja seharusnya juga lebih banyak mengisi
berbagai aktivitas yang lebih banyak mendekatkan kepada Allah SWT., yang
mengantarkan pada kegemilangan islam.
Indentitas muslim seyogianya menjadi
ikon sukses para remaja, intelektual muslim, dan representasi pemuda islam yang
tanps meninggalkan indentitas dan ajarannya keislamannya agar mampu menjdi
kreator dalm segla bidang, inovator dalam berbagai aspek, serta bisa menjadi
pencerah dalam mengatasi problem realitas sosial kemasyarkatan.
Syekh Mustapa al-Ghalayani dalam
kitabnya Izhatun Nasyi’in menjelaskan
bahwa keberanian dibagi dua. Pertama, syaja’ah atau keberanian yang berkaitan
dengan kesopanan, tat karma pergaulan, dan hal lainya yang berhubungan dengan
batiniah.
Kedua, sysja’ah atau keberanian yang
berkaitan dengan kebendaan. Pada umumnya, hal ini disebut dengan syaja’ah
mahdiyah, yaitu keberanian membela diri sendiri, keluarga, tanah air dari
segala mara bahaya yang mengancam. Syaja’ah madiyah inilah mampu melahirkan
kebaranian yang luar biasa dalam kalbu seseorang. Ada nilai-nilai yang kuaat
yang telah mengakar pada dirinya, sehingga apapun tantangan dan ancaman yang
menghadang akan tetap dihadapi dengan berani untuk menunjukan kepada
musuh-musuhnay bahwa berada pada posisi yang benar dan mengharap ridha Allah
Swt.
Dalam konteks syaja’ah madiyah ini,
keberniannya tidak dimaksudkan atas selain nam akeluhuran dan keberanian umat
dan bangsa sekaligus kehormatan diri dan keluarganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar